Dosen PSP FKP USK Kolaborasi dengan Oxford University dalam Monitoring Hiu dan Pari Terancam Punah di Aceh Jaya

Dosen Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) Fakultas Kelautan dan Perikanan – Universitas Syiah Kuala menjalin kolaborasi riset dengan Oxford University untuk melakukan monitoring spesies hiu dan pari yang terancam punah di Kawasan Konservasi Perairan Aceh Jaya.

Kegiatan berlangsung selama 21 hari, mulai 3 hingga 23 September 2025, dengan menggunakan metode Baited Remote Underwater Video Stations (BRUVs), yaitu teknik pemantauan bawah laut menggunakan kamera video yang ditempatkan di dasar perairan dengan umpan untuk menarik ikan dan satwa laut agar terekam tanpa harus ditangkap. Selain pemantauan, tim juga menyelenggarakan pelatihan teknis bagi mahasiswa dan nelayan setempat. Nelayan dilibatkan secara aktif sebagai mitra utama dalam pengumpulan data, sehingga riset ini tidak hanya menghasilkan data ilmiah tetapi juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga laut.

Kegiatan ini disponsori oleh Oxford University, FinPrint, Conservation Finance Alliance, dan Darwin Initiative, yang didukung melalui Yayasan Kebersamaan Untuk Lautan (KUL), sebuah lembaga yang memiliki visi “A world in which nature and people can thrive together”. Program dirancang berbasis penelitian partisipatif (community-based research) dan penilaian berbasis bukti (evidence-based conservation), dengan mempertimbangkan aspek ekologi, sosial, serta praktik terbaik dalam konservasi perairan.

Ilham Fajri, S.Kel., M.Si, dosen PSP FKP USK sekaligus peneliti utama kegiatan ini, menegaskan “Pentingnya pendekatan kolaboratif ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan sains berbasis bukti sekaligus praktik konservasi yang melibatkan masyarakat. Dengan metode BRUVs, kita dapat memantau hiu dan pari secara non-destruktif sambil memastikan nelayan lokal ikut terlibat aktif. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat data ilmiah, tetapi juga membangun rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan konservasi.” Dalam kolaborasi riset ini, Ilham Fajri bekerja bersama Isabel Black, PhD Candidate dari Oxford University, yang turut berperan sebagai kolega penelitian lapangan sekaligus penghubung kerja sama internasional.

Dukungan Pemerintah Aceh dari Kepala Seksi Konservasi Dinas Kelautan dan Perikanan  Aceh, Insyafrizal, S.E., M.Si, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini: “Kami menyambut baik sinergi antara akademisi, lembaga internasional, dan nelayan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Aceh Jaya memiliki potensi besar dalam konservasi hiu dan pari, dan melalui kegiatan ini kita dapat memperkuat pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir”.

Melalui riset bersama ini, Aceh Jaya diharapkan dapat menjadi model pengelolaan kawasan konservasi berbasis sains dan komunitas di Indonesia. Inisiatif ini juga memperkuat kontribusi Aceh dalam upaya global melindungi keanekaragaman hayati laut, sekaligus menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dukungan terhadap upaya ini semakin kuat dengan telah ditetapkannya Aceh Jaya sebagai Kawasan Konservasi Perairan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui KEPMEN-KP No. 76 Tahun 2020, serta pengakuan internasional dari IUCN yang menetapkan wilayah ini sebagai bagian dari Important Shark and Ray Areas (ISRA) – West Aceh.

Categories:

Tags:

Comments are closed

Categories